oleh

Perlunya Mencari Pemimpin, Bukan Hanya Memilih Pemimpin

-Opini-6 views

Oleh : Irman Gusman

SELAMA ini kita sibuk memilih pemimpin, tetapi bukan mencari pemimpin. Semua pemimpin yang dipilih dalam Pilkada, misalnya, adalah pemimpin yang disodorkan oleh partai-partai politik dan rakyat pemilih di-fait a compli alias dibawa ke dalam suatu kondisi dimana tak ada pilihan lain lagi kecuali memilih sosok-sosok yang disodorkan itu, oleh partai-partai politik.

Sistem perpolitikan di negeri ini memang mengharuskan diberlakukan mekanisme demikian, sehingga rakyat tak bebas untuk mencari sendiri sosok-sosok pemimpin yang sesuai dengan aspirasi dan harapan mereka. Hasilnya, banyak sosok-sosok pemimpin potensial tak masuk dalam bursa pemilihan, karena tak berkesempatan diusung oleh parpol-parpol.

Bagaimana dengan provinsi Sumatera Barat? Semua orang tahu bahwa sejak Republik ini berdiri, Sumatera Barat merupakan daerah produsen pemimpin. Sumatera Barat juga merupakan daerah yang masyarakatnya egaliter, demokratis, dan mature dan hidup di dalam nilai-nilai adat yang bersendikan syariah dan syariah yang bersendikan kitabullah.

Jadi, pemimpin untuk Sumatera Barat selalu harus merupakan pemimpi yang memahami dan mengembangkan semua karakteristik dan nilai khas daerah dimaksud. Tentu yang menegakkan nilai-nilai seperti itu dengan pendekatan yang Islami tetapi juga modernis dan inklusif, serta berwawasan global tetapi bertindak dengan kearifan lokal.Jadi, think globally, but act locally.

Seperti apakah ciri-ciri kepemimpinan yang Islami itu? Tentu yang amanah, fathanah, sidiqie, jujur, bisa dipercaya, dan yang memiliki kemampuan, kompetensi dan rekam jejak sebagai pemimpin yang dapat diteladani masyaerakat.

Pemimpin seperti itulah yang kita butuhkan di masa sekarang dalam menghadapi tantangan-tantangan global maupun tantangan di dalam negeri sendiri. Berarti, ujian demokrasi di masa kini adalah ketika pemimpin-pemimpin yang tampil adalah mereka yang dicari dan ditemukan oleh rakyatnya, bukan mereka yang disodorkan tanpa opsi lain kepada rakyat oleh kelompok-kelompok kekuasaan.

Sekilas menoleh ke belakang, kita bisa melihat bahwa Sumbar telah dua kali mendapat anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha, sebagai propinsi dengan model pembangunan terbaik untuk diteladani. Tetapi kenapa predikat itu sirna di masa sekarang? Kenapa pemimpin Minangkabau dulu berhasil meraih prestasi seperti itu tetapi prestasi demikian sekarang tak lagi menjadi kebanggaan orang Minang?

Jawabnya sederhana: Karena kita tertinggal. Karena telah terjadi perubahan drastis sejak Reformasi bergulir di tahun 1998 yang melahirkan kebijakan Otonomi Daerah sejak 2001 tetapi Sumbar kurang mengantisipasi perubahan drastis itu.

Banyak provinsi yang tadinya tertinggal ternyata dengan cepat dapat mengejar ketertinggalannya sehingga keunggulan Sumbar dengan mudah terlewati, sementara Sumbar kini menemukan dirinya berada jauh di belakang banyak provinsi lain.

Langkah Sumbar untuk mengejar ketertinggalan tampak begitu lamban sementara banyak provinsi lain semakin kencang berlari. Kenyataan ini mengharuskan masyarakat Sumbar untuk tidak sekadar memilih pemimpin, tetapi secara proaktif mencari pemimpin seperti apa yang cocok untuk mengajak Sumbar berlari, dan bukan hanya berjalan santai dalam membangun dirinya.

Sumbar membutuhkan sosok pemimpin yang visioner, inspiratif, dan kuat karakternya serta memiliki jaringan luas, baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan begitu maka derap laju pembangunan provinsi ini bisa lebih kencang dalam mengejar ketertinggalannya.

Maka tak bisa lagi masyarakat Sumbar hanya sekadar memilih pemimpin, tetapi harus betul-betul mencari sosok pemimpin yang memenuhi kriteria dimaksud, jika tak mau terus tertinggal dalam perlombaan kemajuan yang semakin gencar ini.

Sebab Sumbar bukan hanya sedang bersaing dengan propinsi-propinsi lain di Indonesia, ia sebetulnya sedang bersaing dengan berbagai propinsi, kota, negara bagian, bahkan negara lain di luar sana dalam banyak hal termasuk dalam investasi, perdagangan, pariwisata, peningkatan kualitas SDM, pembangunan entrepreneurship, pembangunan kebudayaan, dan seterusnya. Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kompetisi global yang kini terjadi membuat semua daerah bersaing dengan semua daerah lainnya di seluruh dunia.

Memang benar bahwa sangat banyak SDM asal Sumbar merantau ke berbagai daerah dan negara lain; dan ikut membangun daerah atau negara lain. Satu sisi positif dari brain drain orang Minang seperti ini adalah mengalirnya remittance dari luar ke dalam perekonomian Sumbar. Hal ini sah-sah saja. Tapi tak bisa diandalkan di masa depan.

Di sisi lain, brain drain seperti ini juga menyebabkan tak mudah bagi masyarakat Sumbar untuk mencari di dalam daerahnya sendiri calon-calon pemimpin visioner dan inspiratif untuk duduk di posisi-posisi kunci di jajaran Pemda guna mengajak masyarakat berlari lebih kencang mengejar ketertinggalan dimaksud.

Dengan bingkai pemikiran demikian maka saya berpendapat perlu diadakan pencarian pemimpin-pemimpin Sumbar dari berbagai daerah lain dimana mereka sekarang berkiprah di bidangnya masing-masing. Baik itu di bidang pemerintahan, sektor swasta, maupun sosok-sosok pemimpin potensial yang berada di luar negeri.

Dengan begitu maka brain drain itu dapat dialihkan menjadi brain circulation dimana para figur pemimpin yang berada di luar Sumbar dapat kembali membangun daerahnya. Sebab mereka memiliki kemampuan dan visi global yang sangat bermanfaat untuk mempercepat derap laju pembangunan Sumbar.

Apalagi dalam era globalisasi ini kecenderungan yang semakin menguat adalah disrupsi ekonomi dimana ketergangungan pada sumberdaya alam dan potensi ekonomi daerah sebagai sumber pemasukan dapat dengan mudah dikalahkan oleh pengembangan knowledge-based economy termasuk ekonomi digital dan ekonomi kreatif yang kian berkembang pesat.

Maka masysrakat Sumbar sejak sekarang perlu mencari pemimpin yang mumpuni untuk menjawab tantangan demikian. Ia mesti seorang pemimpin yang mampu berwawasan global dan mampu mendorong masyarakat untuk tancap gas mengejar ketertinggalan dan menjadi yang terbaik.

Sosok pemimpin yang berwawasan global seperti itu akan mampu mengembangkan semua potensi daerah Sumbar guna memajukan perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan target waktu yang jelas dan terukur.

Sebab Sumbar sesungguhnya sangat kaya dengan warisan budaya serta alam yang indah yang bisa dijadikan soko guru perekonomian daerah masa depan jika dikembangkan dengan baik.

Perlu dikembangkan wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata agama, wisata kuliner, dan seterusnya, Jadi sektor jasa perlu ditumbuhkembangkan sebagai pilar perekonomian daerah di masa depan.

Jangan sampai keindahan alam dan warisan budaya Sumbar justru menjadi gudang kekayaan yang tak mampu dipetik manfaatnya, hanya karena kurangnya wawasan tentang tren kompetisi global yang sedang berkembang.

Akan tetapi perlu saya sampaikan juga, bahwa kebutuhan mencari pemimpin itu bukan saja kebutuhan provinsi Sumatera Barat. Di semua provinsi dan kabupaten/kota hal ini perlu dibudayakan. Sebab ketika masyarakat secara proaktif mencari sendiri pemimpinnya maka akan ditemukan calon-calon pemimpin yang berkualitas yang dapat diandalkan.

Artinya, setelah 21 tahun Reformasi, perlu dilakukan revisi terhadap cara kita menghadirkan pemimpin, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun tingkat nasional.

Kini saatnya masyarakat kita mencari sendiri pemimpin-pemimpin terbaik yang berwawasan global dan mampu bertindak out of the box untuk menghadirkan terobosan dan invovasi serta memberi inspirasi kepada masyarakat, bukan sekadar memilih calon-calon pemimpin yang disodorkan di luar kehendak dan aspirasi kita.

Dengan demikian maka mendekati perayaan 100 tahun Indonesia Merdeka pada Agustus 2045 nanti di semua daerah di Indonesia kita akan memiliki banyak kader pemimpin yang benar-benar memahami dan sanggup mendayagunakan semua potensi daerahnya, tetapi pada waktu yang bersamaan, dengan wawasan global yang dimilikinya serta kemampuan profesionalismenya, mampu mengangkat masyarakat kita sejajar dengan, bahkan lebih tinggi dari, bangsa-bangsa lain di dunia.

Penulis adalah
Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI)

Komentar